El Clasico Pilkada Bukittinggi Antara Fiksi dan Realitas

Opini, Politik, Sosial876 Views

Bukittinggi kota wisata yang sejuk, damai namun sarat dengan muatan sejarah. Penduduk Bukittinggi niscaya bangga dengan nilai sejarah kotanya yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah kebangkitan dan pergerakan nasional.

Dari rahim kota ini melahirkan negarawan besar Indonesia. Di kota ini juga tempat bersekolah Bapak Republik. Dan di kota ini pula di deklarasikan tuntutan otonomi daerah yang berujung tudingan dari pemerintah pusat bahwa gerakan yang diinisiasi oleh kaum militer yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Tak lekang dari ingatan publik, dari kota ini juga lahir polisi wanita yang menorehkan jejak historis perjalanan bangsa.

Kota kecil ini juga dijuluki sebagai kota perdagangan. Bayangkan saja, dengan luas wilayah hanya 25 km persegi, sebut saja ada 4 pasar, pasar atas, pasar bawah, pasar air kuning dan pasar kuliner malam stasiun lambuang yang terbaru. Mayoritas profesi masyarakat yang berdagang secara sosiologis adalah masyarakat yang cerdas. Memiliki kemampuan berhitung dan bertahan di saat sulit sekalipun. Masyarakat pedagang adalah masyarakat yang dinamis dan komunikatif.

Baca Juga  Berikut Tanggapan Bakomstra DPD Partai Demokrat Sumbar Tentang SK Calon Kepala Daerah

Pasca perhelatan pilpres dan pileg 2024, maka perhatian publik tengah mengamati pilkada yang akan datang. Kandidat sudah bermunculan, mulai dari jalur independen yang tengah memasuki fase verifikasi administrasi kelengkapan berkas kandidat. Hingga kandidat-kandidat lainnya yang membawa tema-tema simpatik seperti diksi “paten” dan “mantap”, “Wawa yang baik” juga tidak ketinggalan.

Yang menjadi fokus perbincangan di medsos, group WhatsApp (WA) atau obrolan kedai kopi, mengenai siapakah yang akan menjadi kandidat wakil walikota dari incumbent. Karena Jamak dibicarakan bahwa pasangan ini adalah pasangan yang tidak solid semenjak pelantikan. Jika kemudian realitas politik membawa mereka kembali “kawin” di pentas pilkada, ini adalah ironi khas pilkada kota Bukittinggi.

Ya benar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bukittinggi ibarat bunga desa yang menjadi incaran pemuda-pemuda jomblo yang ingin menikahinya. PKS sebagai partai pemenang pemilu di kota Bukittinggi terkesan gamang dalam menentukan sikap politik. Kehendak elite politik lokal belum tentu akan diamini oleh pejabat partai di pusat. Lagi-lagi PKS bakal menjadi kekuatan politik yang menentukan kepada kemenangan pasangan calon (paslon).

Baca Juga  PKS Bukittinggi Pastikan Usung Marfendi jadi Walikota

Apakah PKS menjadi faktor determinan? Opini kami jika kembali bersanding paslon incumbent, maka kami meragukan soliditas pemilih PKS di arena pileg yang lampau. Bisa jadi pemilih PKS memberikan dukungannya yang sekiranya memenuhi selera dan aspirasi mereka.

Begitu pula dengan koalisi 5 partai penghuni DPRD bukittinggi yang digadang gadang bakal menjadi sandungan incumbent untuk melanjutkan periode kedua, ternyata PKB disinyalir akan memberikan rekomendasinya pada incumbent yang sekarang sedang menjabat. Koalisi besar yang digagas bisa bocor jika tidak dilandasi oleh satu sikap yang objektif hendak dibawa kemana kota ini 5 tahun kedepan.

Kami mengapresiasi PAN Bukittinggi sebagai partai politik pertama yang berani memberikan rekomendasi kepada sang penantang, Ramlan Nurmatias (RN), meskipun partai asal RN belum memberikan surat rekomendasi kepada yang bersangkutan untuk maju sebagai kandidat di pilkada yang akan datang.

Pertanyaan besar dalam kesadaran publik saat ini, akankah pertandingan El clasico terulang kembali? Jawabannya bakal sangat tergantung pada komposisi bakal calon kepala daerah. Idealnya, setiap paslon merupakan representasi dari keberagaman di daerahnya.

Baca Juga  Ini Dia Hubungan Partai Garuda dengan Gerindra
Foto: Ivan Haykal, Pemerhati Sosial dan Politik kota Bukittinggi.

Narasi yang berkembang di pikiran warga kota berangkat dari politik representasi kelompok dan golongan. Politik representasi yang penulis maksudkan adalah Golongan agamis, golongan pedagang sebagai mayoritas profesi masyarakat, dan tentunya golongan berbasiskan etnis.

Mampukah elite politik yang maju sebagai kontestan membaca fakta politik ini? Yang menarik perhatian penulis lebih kepada tidak banyaknya kandidat orang nomor 1, namun pilihan calon orang nomor 2 banyak yang tersedia.

Pilkada Bukittinggi senyap diluar, membara di dalam. Situasi masih dinamis, rakyat masih menanti keputusan partai politik yang jadwal pendaftaran paslon ke KPU pada bulan Agustus.

Pertanyaan besarnya, apakah El clasico akan terulang, besar kemungkinan akan terulang. Dan menjadi momok bagi kepala daerah yang sedang menjabat bahwa dalam sejarah pilkada kota ini incumbent selalu tumbang.

Mari kita tunggu pertunjukan berikutnya, apakah benar El clasico akan terulang. Apakah benar PKS menjadi faktor penentu kemenangan. Biar sejarah yang membuktikan.

Penulis:
Pemerhati Sosial dan Politik kota Bukittinggi, Ivan Haykal.

Comment